Kamis, 21 Januari 2010

Tribute

Hari ini, satu lagi teman kami pergi. Allah SWT telah membebaskannya dari ujian sakit yang telah begitu lama beliau derita. Hari ini, kami teman-teman beliau, mulai memutar kembali memori panjang kebersamaan. Hari lalu, betapa indahnya. Lantas hari ini? Kami menyertainya dalam suasana sedih penuh keikhlasan.

Saya pernah menghadiri acara silaturahmi PGRI sekecamatan. Waktu itu, guru-guru yang akan pensiun dihadirkan ke panggung untuk menerima bingkisan. aka tampillah guru-guru SD hingga SMU yang memasuki masa pensiun. Beraneka profil mereka saat di panggung. Ada yang masih segar dan gagah, ada yang mulai berjalan pelahan dan menunjukkan keadaan kesehatan yang kurang, ada yang didorong di atas kursi roda, dan ada yang diwakilkan karena sudah tiada.

Salah seorang senior saya turut maju ke panggung. Beliau masih segar dan terlihat paling sehat diantara semua yang ada di panggung. Para tamu di sekitar saya pun terdengar berkomentar untuk Beliau dalam komentar yang positif. "Itu sudah pensiun? Masih sehat ya?" Dan yang menggelitik,"Saya mau seperti Ibu yang itu, pensiun dalam keadaan segar dan hidup."

Penghargaan yang diberikan memang sederhana saja ternyata. Bahan baju. Tapi, saat semua yang hadir memberikan selamat pada mereka yang di panggung. Kaca-kaca di mata saya mulai terasa. Ucapan selamat itulah penghargaan paling bermakna untuk mereka.

Hari ini, penghargaan terasa begitu dalamnya bagi teman kami yang wafat. Apapun yang beliau lakukan dulu di sekolah, bisa menjadi cermin bagi kami. Tentunya dengan mengambil yang baik dan menyimpan yang kurang baik jauh dalam hati saja. Saya mulai meraba, akankah orang datang begitu banyaknya jika tiba saat saya nanti? Teman-teman, murid, kerabat, tetangga, mereka semua akankah datang dengan segenap penghargaan?

(sepenuh hati mengenang Ibu Bachziar :1956--2010)

Rabu, 20 Januari 2010

Penilaian Guru

Hari-hari terakhir ini, para guru di sekolah sedang bersiap-siap. Untuk? Penilaian Kinerja Guru. Biasanya yang dinilai kinerjanya adalah kepala sekolah dan sekarang giliran: guru. Saat sosialisasi kemarin, ada 14 form yang harus diisi oleh penilai yang terdiri dari kepala sekolah, pegawai tata usaha, dan juga siswa.

Ada dua sisi berbeda saat kita menilai kinerja guru. Sisi profesionalisme merupakan satu sisi yang menjadi "dalil penilaian" dan sisi lain? kemanusiaan. Profesionalisme guru memang harus dipertanggungjawabkan. Sisi kemanusiaan para guru pun diuji untuk lapangdada dengan penilaian yang berbeda dari kacamata oranglain (pegawai tata usaha dan para siswa).

Maka, menurut hemat saya tidak hanya RPP, analisis ini itu, media, dan sejenisnya yang perlu dipersiapkan menghadapi PKG. Tapi juga batin, minimal untuk bersabar menerima penilaian yang mungkin mengecewakan dari orang lain yang kita harapkan tadinya tidak menjadi "orang lain" yang sebenarnya.

Jumat, 15 Januari 2010

Hentai yang Mengintai

Beberapa waktu lalu, dari sebuah majalah populer, saya disentakkan dengan informasi bahwa tidak semua komik Jepang itu "bersih dan baik" untuk anak. Disebutkan bahwa jenis komik itu disebut "hentai". Ketidak bersihannya terutama karena gambar yang tidak pantas dilihat anak-anak dan jelas ceritanya yang "sangat dewasa". Waktu membaca hal itu saya masih hanya ber"ooh" saja karena memamg saya hanya melirik Detektif Conan dan Kungfu Boy sebagai komik favorit.

Hari ini, saat menjelajah mencari gambar-gambar kartun yang lucu, saya terkaget-kaget dengan gambar manga yang seksi. Saat saya mengklik "cari gambar sejenis", hampir saya loncat dari kursi karena gambar yang ada: adduuuhhaii. Judul gambar itu "Hentai". Jahatnya, pikiran saya langsung tertuju pada anak-anak saya di sekolah yang akhir-akhir ini banyak mendapat tugas dengan sumber internet. Mudah-mudahan tidak ada yang iseng seperti saya mencari gambar-gambar manga atau anime dan menemukan yang seperti ini.

Sekarang, kita sebagai orangtua yang harus waspada. Anak tidak perlu mencari gambar dengan label "porn" atau semacamnya di dunia maya. Ada hentai yang mengintai jika kita tidak waspada. Pfuuii berat nian ya tugas orangtua masa kini..

Rabu, 13 Januari 2010

Pendalaman Materi

Ujian Nasional tinggal menghitung hari atau jika mengambil judul buku pendalaman materi "Detik-Detik Menuju Ujian Nasional". Terlepas dari setuju tidak setuju, kami tetap dihadapkan pada satu kepastian: Ujian Nasional tetap diselenggarakan Maret 2010. Nah, Pendalaman Materi adalah rangkaiannnya.

Dulu. Pendalaman Materi di sekolah saya dinamakan Pengayaan. Oleh para guru diplesetkan menjadi...Penganiayaan. Ya menganiaya anak dan guru sekaligus. Kalau Anda mengajar di sekolah yang serba kecukupan, input siswa bagus, daya dukung bagus, pendalaman materi pasti bukan masalah untuk Anda dan siswa (I hope so). Tapi bagi sekolah kami, saat pendalaman materi benar-benar seperti menganiaya. Anak-anak kami kebanyakan berasal dari daerah minus. Uang saku mereka sangat terbatas bahkan dapat disebut kurang, karena lewat tengah hari biasanya sudah tak ada uang. Maka, seringkali kami hadapi siswa yang tak lagi dapat berkonsentrasi pada pendalaman materi karena lapar.Guru pun teraniaya secara nurani. Kami tahu kondisi anak-anak, tapi kami sulit berbuat banyak.

Pendalaman materi kadang berjalan begitu apa adanya sehingga sasarannya adalah target waktu. Waktu tryout 1. tryout2, ujian semester, dan UN tentunya. Karena targetnya waktu, maka lihatlah, beberapa hari pelaksanaan guru sudah menurun kondisi fisiknya (mengajar dari pagi ditambah pendalaman materi). Adakah penguasaan siswa pada materi yang akan diujikan menjadi lebih dalam? Helaan napas menjadi jawabnya.

Selasa, 29 Desember 2009

Guru Super Indonesia

Senin, 28 Desember 2009 kemarin, saya dan beberapa teman hadir di acara seminar "Guru Super Indonesia" di Bandung. Penyelenggara acara tersebut adalah Rumah Zakat Indonesia. Narasumbernya? Mario Teguh. Seminar bertempat di Sasana Budaya Ganesha dan dihadiri kurang lebih 1000 guru, se Bandung? Tidak juga, ada guru dari Semarang dan Jakarta.

Menghadiri acara untuk guru selalu menjadi vitamin bagi jiwa saya. Nyaris di semua acara bagi para guru saya lihat antusiasme yang besar. Belajar, berbagi, atau istilah Pak Mario "mendekati yang membaikkan diri" mudah terlihat dari wajah guru yang hadir. Entah acara Klub Guru cabang Jakarta, Konggres Guru dari Sampoerna Teacher Institute, seminar Pusat Bahasa, bahkan di MGMP semua rasanya disambut oleh para guru.

Saat acara di Bandung itu, semangat para guru sudah bisa dilihat saat pendaftaran yang "mengular", pengambilan buku yang juga "mengular" bahkan masuk ke ruangan pun"mengular". Kalau bukan karena semangat, apalagi coba, antri di bawah rinai hujan Bandung?Begitu pun saat diberi kesempatan bertanya. Wuih!

Seminar tersebut adalah seminar motivasi bagaimana agar guru Indonesia menjadi guru "penumbuh bangsa". Guru yang "digugu dan ditiru", guru yang tidak berbuat apapun kecuali kebaikan dan tidak meninggalkan apapun kecuali kebaikan. Selama 5 jam Pak Mario memompakan kembali darah segar motivasi. Terkagum saya, karena setelah istirahat, 95% kursi masih terisi. Ah, guru Indonesia memang super!

Minggu, 27 Desember 2009

Hujan telah tiba

Sejak sore hingga malam ini hujan mengguyur belum berhenti. Sempat lebat, namun saat ini rintik-rintik saja. Saya yakin, tidak sedikit dari kita yang mulai bersiap menghadang sang hujan. Suami saya contohnya mulai membeli jas hujan (pengganti yang sudah rusak)tetangga mulai memoleskan "anti bocor" di genting dan dinding rumahnya, dan saya sendiri? mulai rajin kembali minum vitamin penambah daya tahan tubuh yang mudah turun selaras dengan hujan yang turun.

Hujan ini selalu menggiring memori saya pada keadaan sekolah tempat saya mengajar. Beberapa bulan lalu, banjir minimal setinggi mata kaki (banjir atau genangan air?) pasti menyapa sejak saya turun dari angkot sampai halaman sekolah. Itu kalau curah hujannya normal. Kalau sedang kebagian rezeki hujan selebat-lebatnya, bisa dipastikan, air akan naik hingga sedikit di atas lutut.

Sekarang, sedikit berlega hati, hujan masih bersahabat dan jalan di depan sekolah sudah ditinggikan. Tahukan Anda berapa lama saya menunggu jalan itu menjadi seperti saat ini? Sebelas tahun. Sebelas tahun dalam teror musim hujan, sebelas tahun merutuki para pejabat yang "tidak becus" mengurus sepotong jalan sepanjang ratusan meter (sekali lagi: ratusan meter, belum masuk hitungan kilo meter). Sebelas tahun yang membuat banyak sahabat bertanya, "Kok mau sih di tempatkan di situ?"

Hujan esok hari bisa saja melebat kembali, airnya merendam mungkin selutut lagi. Tapi sekarang, saya sudah bisa berdamai dengan itu semua. Mau tahu mengapa? Karena menurut penelitian yang saya baca di koran, beberapa tahun ke depan, tanpa hujan pun Jakarta akan terendam air! Muara Baru contoh paling nyata yang pertama. Kapuk (kecuali "The Haves at Pantai Indah Kapuk)contoh kedua. Anda tahu dimana sekolah saya? Di contoh yang kedua tadi.Jadi, saya sudah "sparring partner" dengan hujan selama sebelas tahun dan banjirnya.Selamat Datang Hujan, semoga turun mu membawa keberkahan bagi kami.

Jumat, 25 Desember 2009

Ini Tahun Baru Hijriah Lhoo

Saya seringkali lupa nama-nama bulan hijriah. Nah, mumpung baru saja tahun baru, saya ingin mengingatkan pada diri sendiri nama-nama bulan hijriah itu. Tulisan ini saya unduh dari wikipedia.

Kalender Hijriyah terdiri dari 12 bulan:

Muharram
Safar
Rabiul awal
Rabiul akhir
Jumadil awal
Jumadil akhir
Rajab
Sya'ban
Ramadhan
Syawal
Dzulkaidah
Dzulhijjah